Pada awalnya aku hanya hobi dan senang melihat,
memantengi program kesukaan di setiap pagi ku saat minggu
mengikuti setiap episode,
mengimajinasikan jika aku mampu pula sekaliber itu
Lalu semakin lama kau mengolokku di setiap waktu,
mengetawaiku yang tak lebih pandai dari mu
hingga rasanya perih, karena aku tak suka kalah darimu
Aku bertekad dan mulai belajar di balik selimut ,
menghindari semua pikuk yang mungkin menanyaiku
juga meminilkan malu jika aku tak kunjung mampu
Sementara kau terkekeh mengimingiku,
bahkan sengaja memacu marahku dengan bekal ini itu
tetapi kau ternyata benar,
aku mampu bisa beberapa meski hanya tak ingin kalah darimu
Kini,
aku tak lagi cuma bisa beberapa
tak melulu orak-arik atau tumisan sawi tahu
lebih dari itu, membekali tujuh hari seminggu pun aku telah mampu
Terima kasih atas pelajaranmu akan bola-bola tahu yang menyakitiku
jika tak begitu, mungkin sekarang aku masih suka terpaku di
depan layar
masih hanya suka tanpa berusaha membuatnya menjadi milikku
terima kasih telah mengajariku menginvestasi cinta,
menyempurnakan peran di masa
depanku
Ku mematokmu sebagai bagainku yang indah,
tidak hanya untuk berada denganku ketika ku jengah,
tetapi lebih selalu mempuzzleku bagaimanapun aku,
menutup celah yang tak sengaja terbentuk atas kecerobohanku,
pun menjadi sumbu untuk memantik wewangian di antara resah
Ku menyelusup menjadi remah yang melekatimu seumur waktu,
meledekmu dengan rupa-rupa tawa sendu serta keras kepala,
juga berleha di atas setumpuk deadline yang kau runtutkan,
dan pada akhirnya selalu tergesa menyusulmu di setiap tenggat derit
pintu,
Ku menari dengan seriang pikiranmu yang tanpa beban,
berayun pada semua perhatian yang tak henti kau hujankan,
lalu dalam memotret renyahnya ikatan ini, menyimpulmu dalam tali sepatu
Dan ketika kini,
ujung talimu yang sebelah masih disini, menjerat risau yang terbumbui
emosi,
mengikat pretensi yang tertubruk amuk,
menyimpul mati pada
ketidakberdayaan
terasa lengkap bila kita berdua, terasa sedih bila di rak yang berbeda,
di dekatmu kotak bagai nirwana, tapi saling sentuh pun kita tak berdaya
"Cinta memang banyak bentuknya, mungkin tak semua bisa bersatu."(Sepatu, Tulus)
Aku tau
siapa aku, yang tak seharusnya memprerogatifmu
aku tau,
tapi aku cuma ingin jadi preferensimu atas apapun
menjadi keutamaan
diatas siapapun
Jika kau
menganggapku egois, aku akan berterima kasih
karena
berarti kau telah mengenalku lebih baik
lebih dari sekedar
mengetahuiku dari apa yang kutampakkan
Cinta memang
tak bisa disalahkan, namun iyakah kau mencintaiku?
Jika kau
menunjukkan yang seolah-olah iya aku percaya
bukannya aku
meragukanmu,
hanya saja kau
terlihat nyaman juga dengan dia, yang mengguratkan lukaku
bahkan dari
ketika aku baru mulai mempercayaimu
Aku sudah
dengan sangat menepiskan perihku karenanya atasmu,
tapi kau tak
pernah mendukungku bahkan sejak saat itu
dan hingga sekarang-sekarang
ternyata tetap begitu
lebih-lebih
kini kau menaburkan garam di atasnya
membuat perihnya
lukaku kian menganga
ku patah
hati kepadamu, juga semakin dalam kepadanya
kau
menghancurkan pemikiran positif yang kubangun akannya
meluluhlantakan
kepercayaanku padamu, dan mengembangkan antipatiku padanya
Apa
pendapatmu tentang ini? Bukankah ku telah menyampaikannya padamu?
aku menyukai pseudonim atas dirimu itu ketika berbicara padaku,
aku menyukai pseudonim atas dirimu itu ketika berbicara padaku,
hanya ketika
berbicara padaku saja, bukan ke yang lainnya juga
dan tidakkah
kau sampaikan tak lagi melakukannya ke yang lain?
tapi ku tahu
ternyata kau membohongiku,
lebih lagi
ini kau lakukan dengannya, dengan ia yang sekali lagi telah mengguratkan lukaku
luka yang
kini semakin dalam membuat hatiku memar
Terima kasih
untuk semua ini,
sekarang biar
aku saja yang berhenti mengambisi
kuserahkan
semuanya padamu jika itu menyenangkanmu
aku tidak
apa-apa,
pun tak akan
memintamu berhenti memposisikan itu padanya
aku hanya
terluka, dan tak butuh kau mengobatinya
Jika saja kau juga seperti hujan, yang mendaur hidupnya setelah
turun ke bumi. Melalui terjal landai sungai mencapai laut dan menguapkan diri
kembali ke langit. Jika saja kau seperti hujan, yang ikhlas menjadi apapun
juga. Jika saja kau mensyukuri juga menjadi apapun, entah diprioritaskan dalam
segala hal atau diprioritaskan di dunia kalian saja. Jika saja, kau lebih
mensyukuri didiktatori daripada dilembutkan yang melalaikanmu seperti ini.
Hidup terkadang tidak seindah lakon skenariomu
sendiri. bukan perkara yang kau jalani kini, tapi lebih karena kau lupa untuk
mensyukuri. Membangun harapan yang terlalu tinggi untuk menyenangkan dirimu
sendiri, lalu lupa yang senadainya itu tidak terjadi. Kau menyakiti dirimu
sendiri dengan pengandaian yang menjadi-jadi. Tidak memikirkan perihal realita
dan kebutuhannya juga. Kau mengegoiskan dirimu hanya untuk membalas semua
kesukaanmu yang berlebihan. Kau sudah dewasa dalam usia, tetapi tidak dengan
perilakumu?
Kau mengatakan berupa banyak hal, menyemangati
dirimu untuk menjadi lebih baik dari apapun. Tapi kau menyerah dengan
perasaanmu. Kau kalah dengan emosimu, dan membiarkan dirimu menangis atas
perasaanmu sendiri. Memarahi setiap orang yang bisa kau salahkan,
mengkambinghitamkan ia dan membutat semua seolah salahnya. Iyakah yang seperti
itu akan membangun sesuatu yang baik?
Kau tak pernah berfikir bagaimana jika suatu ketika
ia lelah dengan semua kelakuanmu Apakah kau akan membiarkan semua jainan mimpi
ini berantakan lagi? Kau pernah terjatuh pada lubang yang menyurukkanmu, lalu
kenapa kau tak juga bangkit untuk lebih waspada? Kenapa tak juga kau belajar
dan memperbaiki kesalahn yang kau lakukan? Kau membentuk dirimu lebih kekanakan
dari kau yang lebih dewasa sebelumnya. Kau menjatuhkan semuanya karena
menganggapnya dewasa. Kau tak mengimbanginya, justru membua dirimu lebih
berbalik keadaan dengannya? Kenapa? Kenapa seperti itu yang kau lakukan?
Tidakkah kau mengatakan kau menyukainya? Tidakkah
demikian?
Waktu memang selalu lebih mahir menjungkirbalikkan kisah. Seperti ketika aku baru saja merasakan betapa aku mulai mencintaimu.
Tepat pada saat itu pula badai datang
dan merubuhkan semuanya. Aku kehilangan arah untuk menemukan jalan menyusulmu
lebih cepat. Sementara dedaunan kering masih melayang-layang menyingkap pasir
yang tertahan diantara kemarau panjang. Lalu dengan cepat debu-debu terhuyung,
berlomba dengan oksigen di udara untuk lebih cepat sampai di saluran
pernafasanku. Aku terbatuk-batuk, tapi muskil.
Siang menggeliat seolah enggan
dengan seluruh rajukan yang kuajukan. Aku sendiri. Menikam ketidakberdayaanku
sendiri.
Ketika pada akhirnya aku menangis,
hujan datang berempati. Ikut-ikutan membuyarkan debu yang teronggok di depan
hidung dan menutupi jalannya masuk oksigenku. Ia tidak mengatakan apapun, juga
tidak berupaya menanyaiku kenapa. Aku terbantu, tapi tetap sendiri. Bersembunyi
dengan ketakutan karena tidak bisa melihatmu lagi.
Akankah mencintaimu menjadi sesulit
ini bagiku?
Tidakkah semua petuah manis yang
kaulipat di seujung kertas tisu itu masih ada? Aku hanya sedang menempatkan
hatiku. Aku menerima lipatan tisumu dan berusaha menumbuhkannya. Adakah yang
salah? Aku sudah berusaha jika kau tau. Aku memang tidak pandai merawat. Pun tak
sabar merekam ramu yang kau bentangkan. Tapi kenapa milikku tak kunjung berbuah
lebat hingga akhirnya kini rubuh tertelan badai?
Mungkin aku yang lamban, atau kau yang
terlalu cepat tumbuh. Aku masih terkoyak dengan duri dan sedang berusaha untuk
melepaskannya. Aku awalnya melihat kau mengiringiku, berusaha memelankan yang
kau tumbuhkan. Lantas menyiratkan ini itu untukku terbebas. Tapi kau lupa, kau menyiramiku
pula dengan rupa-rupa bebauan. Menghujamiku dengan manik-manik, yang berat
hingga aku lupa dengan ulasanmu yang ini itu. Aku tersedak disisi aku
menumbuhkan petuah manis di ujung tisumu. Sepertinya sebagian darinya
terhambur. Terbang di luar batas kendaliku, dan aku tak mampu menggapainya. Tidakkah
kau sadar itu jauh lebih memberatkanku?
Kenapa kau begitu cepat tumbuh
ketika aku masih tak berdaya?
28 Januari 2017,
10:57
Indonesia, negeri agraris tanah surga
Terletak strategis pada lintasan khatulistiwa
Membagul plasma nutfah tunjangan iklim tropika
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman katanya
Sayang, sarwo tukhul kang tinandurnya kini telenovela
Lantaran pertanian Indonesia masa ini marginal citranya
Tergeser prospektif varietas hotel dan villa
Tereleminasi perspektif laba gendut kerja non agraria
Tergerus kompleksitas hajat tauke-tauke kaya
Yang mengeksploitasi harga komoditi di pasar oligopsoni
Hingga terjadi involusi pertanian tak terperi
Wahai lihatlah petani kami semakin melarat
Gembar-gembor regulasi tak cukup untuk reformasi petani
Tak genap untuk mengkover kesejahteraan yang seolah mimpi
Toh konsumsi beras luar negeri tetap menggagahi
Apakah iya bidang kami hanya kancah bisnis lintas negara?
Lalu harus kemana kami mencari gelibatnya tanah surga?


