Barangakali, khayalan sudah bercokol kuasa
Aku ingin pandai menuangkan cerita
Biar padamu aku bisa menularkan bahagia
Ah, ungu dan biru memang sungguh cocok berpadu, ternyata, aku baru tau
Lebih lagi karena pemakainya yang menghipnotisku
Aku curiga sukaku karena pemakainya
Aku tidak peduli sekalipun sedang berdelusi
Karena mungkin hanya disana aku bisa
Mengeratkan pelukan bertiga dengan mereka,
Hm.
Aku belum ingin bangun,
Aku masih mau nyenyak bermimpi
Bersua-suka,
Diantara ibuku,
juga ibumu.
Bisakah, semalam lagi?
D, 7/11.
Aku ingin pandai menuangkan cerita
Biar padamu aku bisa menularkan bahagia
Ah, ungu dan biru memang sungguh cocok berpadu, ternyata, aku baru tau
Lebih lagi karena pemakainya yang menghipnotisku
Aku curiga sukaku karena pemakainya
Aku tidak peduli sekalipun sedang berdelusi
Karena mungkin hanya disana aku bisa
Mengeratkan pelukan bertiga dengan mereka,
Hm.
Aku belum ingin bangun,
Aku masih mau nyenyak bermimpi
Bersua-suka,
Diantara ibuku,
juga ibumu.
Bisakah, semalam lagi?
D, 7/11.
Di kepalaku kamu adalah tuan
Dan di bayangan Ibuku kamulah harapan
Kamu tau, kan?
Asaku sudah kujejali dengan biji-biji mimpi
Sayang, kamu masih saja menguji
Membiarkan aku tersengut-sengut sendiri
Waktu memang berkuasa menghapus apa saja
Termasuk menggerogoti gudang intensi
Kekeliruanku termuat dalam tanggal-tanggal kalender
Tercatat kelewat lama disana aku tak mengacuhkanmu
Maaf, sayang.
Telah membiarkanmu kadaluarsa
Padahal ibuku sudah melamunkan
Sekeranjang panenan dan kebahagiaan
Padahal di ibuku,
Kamu sudah memiliki ruang
Kamu sudah menjadi kesukaan
Malah aku dengan egois memporandakan.
Masihkah kau akan kembali datang,
membawakanku sebuah kesempatan?
Dan di bayangan Ibuku kamulah harapan
Kamu tau, kan?
Asaku sudah kujejali dengan biji-biji mimpi
Sayang, kamu masih saja menguji
Membiarkan aku tersengut-sengut sendiri
Waktu memang berkuasa menghapus apa saja
Termasuk menggerogoti gudang intensi
Kekeliruanku termuat dalam tanggal-tanggal kalender
Tercatat kelewat lama disana aku tak mengacuhkanmu
Maaf, sayang.
Telah membiarkanmu kadaluarsa
Padahal ibuku sudah melamunkan
Sekeranjang panenan dan kebahagiaan
Padahal di ibuku,
Kamu sudah memiliki ruang
Kamu sudah menjadi kesukaan
Malah aku dengan egois memporandakan.
Masihkah kau akan kembali datang,
membawakanku sebuah kesempatan?
Wahai, rindu
Tidakkah sudah
kukenalkan luka padamu?
Bisa-bisanya
kau ini menyabotaseku
Kau tau,
kan, aku sedang membenci?
Kenapa harus
didesak pula untuk tetap merindui?
Petang, Oct 25.
Seringkali hujan diburu sebagai penyebab lebatnya kenangan
Atau di cawan lain, hujan dikudeta gegara disebut menimbulkan luka
Padahal di mukaku, hujan selaksa obat
Ia meluruh luka yang mengerak di lajur pipi bengkak
Aku lantak.
Menyerah pada pelukan hujan yang dengan perhatian datang di awal petang
Ia menawari sebilah sapu tangan untuk menambal air mata yang jatuh sesiangan
Ia berkata:
Yang terhormat luka, sudilah kiranya engkau beranjak
Tak kuasa aku melihatnya lantak
Pergilah, biar kudekap ia hingga terlelap dan melupakanmu barang sejenak.
Seringkali hujan diburu sebagai penyebab lebatnya kenangan
Atau di cawan lain, hujan dikudeta gegara disebut menimbulkan luka
Padahal di mukaku, hujan selaksa obat
Ia meluruh luka yang mengerak di lajur pipi bengkak
Aku lantak.
Menyerah pada pelukan hujan yang dengan perhatian datang di awal petang
Ia menawari sebilah sapu tangan untuk menambal air mata yang jatuh sesiangan
Ia berkata:
Yang terhormat luka, sudilah kiranya engkau beranjak
Tak kuasa aku melihatnya lantak
Pergilah, biar kudekap ia hingga terlelap dan melupakanmu barang sejenak.
Setelah tiga hari di ruang sepi,
Kupaksa diri bersua dengan biji-biji sawi
Ya.
Aku butuh berkegiatan.
Aku butuh tempat tuju untuk berlarian.
Awalnya aku kira bisa sembuh hanya dengan sembunyi,
Menghilang dari segala pikuk dan mematikan gawai.
Tapi nyatanya tidak mudah mengelupas baset-baset ini
Pun setelah bawah mata berhasil bersaing tembem dengan pipi
Aku tetap tidak lega.
Aku tetap tidak menjadi lebih baik karenanya.
Di hari ketika aku memberanikan diri untuk menghadapi,
Aku tergugu, sekali lagi.
Mematikan gawai pun ternyata percuma
Aku tetap terjungkal setelah tau memang jawabnya sesuai prediksi.
Aku tergugu, sekali lagi.
Ya. Cukup sekali saja lagi.
Karena benar, sebanyak apa pula aku menangisi
Pilihan itu tidak akan pernah diganti.
Memberiku luka memang lebih gampang,
daripada kudu memutuskan untuk tidak menyapanya sama sekali, kan?
Ya.
Asal kamu bahagia, tidak apa apa.
Teruskan saja.
Biar aku yang berhenti,
mengubur dalam mimpi-mimpi.
"Ibuk tau meski nggak mbok bagi tau",begitu katanya.
Katanya pula:
Mesti berhenti berkeras hati,
Menurunkan ego untuk mengalah sesekali
Tidak terus-menerus membohongi diri
Tertawa-tawa pas bareng-bareng semua,
Tapi sesenggukan pas malam lagi sendiri.
"Ibuk tau, meski gak mbok bagi tau."
Sudahi,
Wong wes tak perantarai,
Kok ya sek tetep podo egone ditinggi-tinggi.