Kamu memilih menjungkalkanku di pucuk tanduk, sa.
mungkin, maksudmu memang tidak begitu
meski pengutaraanmu bilang kesengajaan,
aku tau arahnya jelas tidak untuk mendorongku.
Aku mempercayaimu, tetapi tidak berarti merubah titik kata
karena meski tak begitu ucapmu, ada yang tidak kamu sadari
bahwa pijakanku sudah terlalu gawing untuk kutopangi
Maaf dariku untukmu, belibetku.
karena meski aku bilang memaafkanmu
masih ada dariku yang menyalahkanmu atas sakit ini
juga ketika aku bilang tidak berhenti bicara denganmu
nyatanya aku memilih diam dan membendung dendam
bukan, bukan dendam sebenarnya
hanya semacam aku kehilangan kebiasaan
aku terlalu lama tidak sehebat ini kepada seseorang,
setelah bersama bu dokterku dulu
dan kamu membuatku begitu kuat lagi,
kemudian tanpa sebab menjungkalkanku dalam,
lebih dalam dari lubang kuterjungkal sebelumnya
kini, setelah empat tahap ini terlalui
kamu tetiba datang
meminta maaf, tetapi tidak memberi penjelasan
sementara aku masih tetap terbungkus dengan segala kegugupan
yang membuatku kemudian memilih menghindar
daripada menyapamu dan terlihat betapa aku,
tidak bisa mengendalikan diriku
di depanmu.
Ya. Kalian, terlalu seiya.
Sama-sama memilih menjungkalkanku di saat aku sedang sayang-sayangnya.
Pesanmu sudah kuterima, wahai
iyakah sudah terlalu lama kau mengirimkannya?
maafkan aku yang tidak pernah tau
tetapi semoga kau tidak sedang mengisengiku
Kau tau aku ternyata secengeng ini, aku tidak tau kau
tetapi aku menangis membaca pesanmu itu
terima kasih sudah membawaku dalam doa-doamu
terima kasih sudah menyemangatiku:
dalam semua hal dalam ucapanmu
dalam semua hal dalam ucapanmu
sepertinya kau begitu baik mengenaliku, ya?
sampai menyebut dengan benar tahapanku sekarang
Aku, apa boleh menebakmu?
Kusingkap lembar-lembaran yang sudah lama kukardusi
Gegara berondongan bingkisanmu hari kemarin, tentang sesuatu
Yang ingin kudongengkan padamu, hari ini
Kau perlu tahu:
dari semua caramu ada, hilang, dan kembali lagi
sudah kuputuskan mengotaki semuanya dan rapat ku mode
sembunyi
aku takut, terlalu tidak mau ada sesuatu bakal terjadi
seperti waktu aku memutuskan berhenti, menyetir sendiri, kau
ingat?
sesungguhnya ketika itu aku hanya sedang bergulat dengan
perasaanku
karena tetiba rasanya marah sudah menguasaiku
di pagi saat aku melihatmu, bersama dia temanmu
berlebihan sekali, ya, sikapku?
Entahlah.
mulai saat itu aku sudah mewanti diri
supaya tidak gampang menyerahkan seutuhnya sukaku (padamu?)
sebab aku mulai tau
kala itu harapan hanya berasal dariku,
baikmu bukan karena sesuatu, baikmu tidak hanya untukku
kemudian semuanya tenggelam:
kau hilang atau aku yang menghindar?
hingga sekarang, aku
tidak berbohong
aku masih suka berbicara banyak-banyak dengamu
dan semakin suka, dengan semua perubahanmu
di hari kemarin aku mendengarmu
untuk pertama kalinya,
aku bahagia, juga malu, kau lihat kegugupanku hari itu?
Di setiap simpul-simpul yang kau ikatkan,
ada untaian yang terbentuk memanjang
terlalu panjang sampai menjuntaikan resahku dua hari lalu
keresahan yang berasal dari satu kalimatmu,
kalimat yang tidak sengaja kutemukan
tetapi kuat mendobrak seluruh siasat mode sembunyiku, kala
itu.
Kau, apa benar begitu?
Aku hanya seorang gadis, yang
benar katamu: tidak cantik
apalagi ingin kemayu dengan sok begini begitu
aku tidak mau menjadi musabab sakit
hatimu, sungguh
hanya saja, banyak perihal kepercayaanku
yang berubah
entah gegara meluruh terkikis sebab
atau menguat teringat tekad
Dikatakanlah oleh Ay,
perasaannya
terkadang memang sekurang ajar itu
tanpa tendeng
aling-aling apalagi sempat permisi
seperti: meski tidak ada rumusan banyak rasa
di awalnya
tetapi tetap saja tetiba ada goyah di selip tengah
Mungkin ia serupa mikoriza, kataku
sementara kamu adalah bagian dari
batangku
setinggi apapun kamu ingin membawaku
tumbuh,
aku tidak akan bisa.
kemarau yang timbul setahun ini di iklim
mikroku,
membuat akarku mengerut
bulu-bulu akarku merontok
dan air-air nutrisiku tercekat
aku membutuhkannya, yang sukarela menjadi
tangan
dari bulu-bulu akarku yang patah
merekat ion ion makanan yang
mengenyangkan
memberikanku kekuatan dari hal dasar yang
kubutuhkan
tetapi kamu pasti paham, kan?
seluas apapun mikoriza mengcover perjalananku,
bukankah aku tetap akan besar bersama batang?
Aku
ingin, tidak banyak menuntutmu
meski
terbata kuhela ini semua,
aku
ingin tidak lagi membebanimu di dalamnya
meski kadang aku ingin juga, ada kamu disini
meski kadang aku ingin juga, ada kamu disini
tapi
kemudian kutampar diri untuk mengenyahkan ilusi,
tidak.
aku
tidak akan lagi begitu,
duniamu
itu, sudah berbeda lagi dari yang dulu
aku
tidak akan mengusik untuk memintamu
biar
aku yang mengadaptasikan mau
supaya
meski berat di sini, aku masih terus tetap mampu
menyelesaikan
hidupku
Awalnya aku ingin percaya, tapi tidak
itikadmu saja bahkan tidak genap ku dekap
kamu terlalu banyak mengatakan harapan
yang semudah itu terkikis kenyataan,
seperti terakhir kali kamu janjikan padaku sebuah tekad
mengenai rupa-rupa perkara yang bakal disimpan rapat
nyatanya juga tidak dapat,
terlalu rumit ya mengertiku hingga kamu tersendat-sendat
lalu memilih ingkar dan memaparkannya pada ia yang erat
memang iya sesulit itu memendamnya lekat
aku juga, tetapi lebih menyamarkannya hingga tak kentara
tak terlihat kasat mata apa yang jadi perkara
aku memilih diam padanya, seolah kita baik-baik saja
bukan gegara ku tak mempercayainya,
hanya saja aku belajar bahwa ini hanya tentang kita
sebenar apapun pendapatnya, ia sekedar penonton belaka
tak berhak mempengaruhi cerita, kan ya?
Akad memang berat,
tapi tidak berarti bisa menggugurkan sepakat