Petang, Oct 25.
Seringkali hujan diburu sebagai penyebab lebatnya kenangan
Atau di cawan lain, hujan dikudeta gegara disebut menimbulkan luka
Padahal di mukaku, hujan selaksa obat
Ia meluruh luka yang mengerak di lajur pipi bengkak
Aku lantak.
Menyerah pada pelukan hujan yang dengan perhatian datang di awal petang
Ia menawari sebilah sapu tangan untuk menambal air mata yang jatuh sesiangan
Ia berkata:
Yang terhormat luka, sudilah kiranya engkau beranjak
Tak kuasa aku melihatnya lantak
Pergilah, biar kudekap ia hingga terlelap dan melupakanmu barang sejenak.
Seringkali hujan diburu sebagai penyebab lebatnya kenangan
Atau di cawan lain, hujan dikudeta gegara disebut menimbulkan luka
Padahal di mukaku, hujan selaksa obat
Ia meluruh luka yang mengerak di lajur pipi bengkak
Aku lantak.
Menyerah pada pelukan hujan yang dengan perhatian datang di awal petang
Ia menawari sebilah sapu tangan untuk menambal air mata yang jatuh sesiangan
Ia berkata:
Yang terhormat luka, sudilah kiranya engkau beranjak
Tak kuasa aku melihatnya lantak
Pergilah, biar kudekap ia hingga terlelap dan melupakanmu barang sejenak.
Setelah tiga hari di ruang sepi,
Kupaksa diri bersua dengan biji-biji sawi
Ya.
Aku butuh berkegiatan.
Aku butuh tempat tuju untuk berlarian.
Awalnya aku kira bisa sembuh hanya dengan sembunyi,
Menghilang dari segala pikuk dan mematikan gawai.
Tapi nyatanya tidak mudah mengelupas baset-baset ini
Pun setelah bawah mata berhasil bersaing tembem dengan pipi
Aku tetap tidak lega.
Aku tetap tidak menjadi lebih baik karenanya.
Di hari ketika aku memberanikan diri untuk menghadapi,
Aku tergugu, sekali lagi.
Mematikan gawai pun ternyata percuma
Aku tetap terjungkal setelah tau memang jawabnya sesuai prediksi.
Aku tergugu, sekali lagi.
Ya. Cukup sekali saja lagi.
Karena benar, sebanyak apa pula aku menangisi
Pilihan itu tidak akan pernah diganti.
Memberiku luka memang lebih gampang,
daripada kudu memutuskan untuk tidak menyapanya sama sekali, kan?
Ya.
Asal kamu bahagia, tidak apa apa.
Teruskan saja.
Biar aku yang berhenti,
mengubur dalam mimpi-mimpi.
"Ibuk tau meski nggak mbok bagi tau",begitu katanya.
Katanya pula:
Mesti berhenti berkeras hati,
Menurunkan ego untuk mengalah sesekali
Tidak terus-menerus membohongi diri
Tertawa-tawa pas bareng-bareng semua,
Tapi sesenggukan pas malam lagi sendiri.
"Ibuk tau, meski gak mbok bagi tau."
Sudahi,
Wong wes tak perantarai,
Kok ya sek tetep podo egone ditinggi-tinggi.
Gelisah aku mengaksarakan engkau.
Membendung senyum yang terus merekah saja, aku tak mampu
Apalagi memegang kendali tunas-tunas yang bersemi dengan tak tau diri
Kau mungkin bisa membantu menjelaskan padaku,
Bagaimana mereka tumbuh padahal aku sama sekali tak mengairi?
Oh, biar aku coba menerka
sepertinya mereka cuma butuh kau disini
Karena kupikir proses imbibisi telah terjadi
Hanya menunggumu sinari saja untuk memberontakkan pucuk-pucuk mimpi
Setelah hari ini,
Jika memang bagimu belum bisa tinggal,
tidak apa-apa.
Kau boleh kapan saja kembali,
Meski aku tidak bisa berjanji pucuknya tak etiolasi
Silahkan pergi.
Tetapi jangan lupa membawa bersamamu janji yang kau buatkan di kapan hari,
Semogalah kau bukan yang pandai mengingkari
Terima kasih,
sudah mencerahkan yang meredup beberapa hari
Dan,
Maaf.
Karena mungkin aku sudah melangkahi susunan rencana yang telah rapi.
Membendung senyum yang terus merekah saja, aku tak mampu
Apalagi memegang kendali tunas-tunas yang bersemi dengan tak tau diri
Kau mungkin bisa membantu menjelaskan padaku,
Bagaimana mereka tumbuh padahal aku sama sekali tak mengairi?
Oh, biar aku coba menerka
sepertinya mereka cuma butuh kau disini
Karena kupikir proses imbibisi telah terjadi
Hanya menunggumu sinari saja untuk memberontakkan pucuk-pucuk mimpi
Setelah hari ini,
Jika memang bagimu belum bisa tinggal,
tidak apa-apa.
Kau boleh kapan saja kembali,
Meski aku tidak bisa berjanji pucuknya tak etiolasi
Silahkan pergi.
Tetapi jangan lupa membawa bersamamu janji yang kau buatkan di kapan hari,
Semogalah kau bukan yang pandai mengingkari
Terima kasih,
sudah mencerahkan yang meredup beberapa hari
Dan,
Maaf.
Karena mungkin aku sudah melangkahi susunan rencana yang telah rapi.
Dek, sore tadi Pak helm tidak seperti biasanya.
Beliau memasukkan racikan siomaynya bersama sebungkus ingatan yang meronta-ronta di kepalaku.
Mengenai hari karnaval tiga tahun lalu.
Oh, hari itu jalanan padat sekali, dek.
Semua orang sibuk terlibat.
Maksudku satu berangkat karnaval, yang lainnya mengikut jadi penyorak semangat.
Keadaan begitu menggiringku dalam dilema,
Bisakah semotor bertuan lima? Tentu saja itu kelakar belaka.
Tetapi,
Solusi disetujui meski lama mengonfirmasi.
Kau taulah riangnya aku ini, dek.
Bertigaan sepanjang jalan, meski sepi tanpa obrolan.
Dan kau tau, dek?
Bagian terbaiknya adalah,
sebuah titipan yang mengejutkan sampai padaku.
Ah, aku bahkan lupa pernah meminta, tapi ternyata ia ingat untuk melunasi janjinya.
Hari itu aku memafhumi satu hal yang kurasa tidak berubah hingga sekarang, dek: manis.
Hm.
Benar, manis.
Beliau memasukkan racikan siomaynya bersama sebungkus ingatan yang meronta-ronta di kepalaku.
Mengenai hari karnaval tiga tahun lalu.
Oh, hari itu jalanan padat sekali, dek.
Semua orang sibuk terlibat.
Maksudku satu berangkat karnaval, yang lainnya mengikut jadi penyorak semangat.
Keadaan begitu menggiringku dalam dilema,
Bisakah semotor bertuan lima? Tentu saja itu kelakar belaka.
Tetapi,
Solusi disetujui meski lama mengonfirmasi.
Kau taulah riangnya aku ini, dek.
Bertigaan sepanjang jalan, meski sepi tanpa obrolan.
Dan kau tau, dek?
Bagian terbaiknya adalah,
sebuah titipan yang mengejutkan sampai padaku.
Ah, aku bahkan lupa pernah meminta, tapi ternyata ia ingat untuk melunasi janjinya.
Hari itu aku memafhumi satu hal yang kurasa tidak berubah hingga sekarang, dek: manis.
Hm.
Benar, manis.
Awalnya ini hanya berupa rintik
yang diam-diam menyelinap lalu mengusik
Kemudian ia berkembang menjadi hujan
yang terakumulasi jadi bulir-bulir besar,
Di hari yang terus berjalan,
tercipta lubang yang menjadi nganga
semakin banyak hingga keropos merapuh bersama
sepertinya ini memang gegara hujan asam tereaksi
akibat udara kita sudah terpolusi
tentang janji-janji yang teringkari
juga harapan-harapan yang digugurkan dengan pilihanmu sendiri.
Jadi, silahkan pergi.
Jika sukamu bersamanya (semoga) aku juga tidak apa-apa.
Semoga berbahagia.
yang diam-diam menyelinap lalu mengusik
Kemudian ia berkembang menjadi hujan
yang terakumulasi jadi bulir-bulir besar,
Di hari yang terus berjalan,
tercipta lubang yang menjadi nganga
semakin banyak hingga keropos merapuh bersama
sepertinya ini memang gegara hujan asam tereaksi
akibat udara kita sudah terpolusi
tentang janji-janji yang teringkari
juga harapan-harapan yang digugurkan dengan pilihanmu sendiri.
Jadi, silahkan pergi.
Jika sukamu bersamanya (semoga) aku juga tidak apa-apa.
Semoga berbahagia.